Santri’s Journey #6

Catatan #6

وقال عليه الصلاة والسلام: إذا مَاتَ العَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ والأَرْضِ سَبْعِينَ يَوْما وقال عليه الصلاة والسلام: مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ. قالها ثلاث مرات

Nabi saw bersabda: Jika seorang alim (berilmu) meninggal dunia, maka penduduk langit dan bumi menangis selama tujuh hari. Dan sabda Beliau saw: Barang siapa tidak bersedih atas wafatnya seorang alim, maka ia munafik, munafik, munafik. Nabi saw mengucapkannya tiga kali.

Tepat pada tanggal 24 Oktober 2017 bertepatan dengan tanggal 4 Safar 1439 H, pimpinan pondok pesantren Darut Tholibin yaitu KH. Sirojuddin Fauzi meninggal dunia. Seorang ulama karismatik yang memiliki semangat belajar dan mengajar yang amat luar biasa bahkan dalam keadaan apapun. Beliau tidak pernah meminta biaya sepeserpun pada setiap santri yang ingin belajar di pondok pesantrennya, semua fasilitas diberikan secara gratis.

Kesedihan yang amat luar biasa untuk keluarga dan para santri ketika mengetahui kyai yang sekaligus yang menjadi orangtua di pondok pesantren telah meninggal dunia. Tak ada yang bisa keluarga dan para santri lakukakan selain mendoakan beliau.

Manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang maha menentukan segalanya. Mungkin kalimat itu yang selalu aku ingat, karena niat pertama aku datang di pondok pesantren ini adalah untuk belajar selama setahun penuh, namun takdir berkata lain, baru menginjak satu bulan aku belajar, kyai mendapat cobaan berupa penyakit struk.

Beberapa kali sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Dengan pengawalan Para santri yang silih berganti untuk menemani dan menjaga kyai dan keluarga pada saat di rumah sakit. Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya dokter memberi izin untuk istirahat di rumah. Tak berhenti di situ, keluarga mencoba untuk membawa kyai pada pengobatan lain yang berupa terapi. Namun tak kunjung membuahkan hasil. Sampai pada akhirnya tanggal 24 Oktober 2017 yang bertepatan dengan tanggal 4 Safar 1439 H pukul 14.00 WIB kyai menghembuskan nafas terakhirnya.

Semoga Allah terima Iman serta Islamnya dan Allah tempatkan di surga yang paling tinggi drajatnya. Semoga keluarga diberi kekuatan dan ketabahan. Juga segala ilmu yang telah beliau berikan pada para santri, menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin

Iklan

Santri’s Journey #5

Catatan #5

Kehidupan di pondok pesantren adalah miniatur kehidupan bermasyarakat, segala macam karakter ada di dalamnya. Ada yang aktif, pendiam, humoris, serius, suka bercanda, dan lain-lain. Oleh karena itu, seharusnya kita bisa belajar membaca karakter orang-orang tersebut. Sehingga kita bisa mengetahui cara berinteraksi yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Ada seorang santri sebut saja Aji. Merupakan pengalaman pertama untuknya belajar di pondok pesantren. Kebetulan ia tinggal 1 kamar dengan santri lama bernama Kamal. Beberapa hari mereka terlihat akrab, berbincang, berbagi ilmu dan tawa.

Keduanya suka bercanda, namun Aji lebih tau batasannya demi menjaga perasaan orang lain. Berbeda dengan Kamal, karena merasa sudah terlalu dekat, jadi ia mulai memanggil Aji dengan sebutan-sebutan yang sebenarnya Aji tidak sukai apalagi menyinggung soal fisik, contohnya Kamal sering memanggil Aji dengan sebutan Kim Jong-Un (Presiden Korea Utara) karena perawakan tubuh Aji menurut Kamal sangat mirip dengan Kim Jong-Un. Tapi Aji masih anggap bercanda biasa walau terkadang mulai merasa terganggu, karena candaan Kamal mulai berlebihan.

Aji sudah sering mengingatkan Kamal untuk berhenti memanggilnya dengan sebutan itu. Aji tidak mau perbuatan Kamal memancingnya untuk memanggil Kamal dengan sebutan-sebutan yang tak baik, apalagi menginggung masalah fisik.

Sampai akhirnya ketika Kamal memanggil Aji dengan sebutan Kim Jong-Un depan teman-temannya, Aji berkata dengan nada bercanda:

Aji : “udahlah,  jangan panggil terus ana (saya) kaya begitu. Dan jangan pancing ana (saya) supaya ngatain ente (kamu) pendek demplu (pendek dan gemuk) kaya golok daging.” Seketika teman-temannya berbalik menertawakan Kamal.

Kamal : “biarin pendek juga, Kyai Jujun (Ustad terkenal di Sunda) juga pendek.”

Aji : “Iya ana tau kalo Kyai Jujun pendek, tapi bedanya beliau tidak pernah menjelek-jelekan orang lain apalagi menyakiti hatinya. Percuma punya banyak ilmu tapi tidak punya akhlak atau suka menyakiti hati orang lain.” (Sontak teman-teman lain memuji ucapan Aji)

Setelah itu Kamal meminta maaf kepada Aji dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya serta akan belajar untuk bisa lebih menjaga perasaan orang lain.

Pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus berhati-hati dalam berbuat dan berucap karena lisan itu lebih tajam dari pedang. Karena sejatinya bencana pun itu diawali oleh ucapan (البلاءُ موكلٌ بالمنطق).

Dan jangan sampai ucapan kita menyakiti hati orang lain. Karena hati ibarat kaca, jika sudah pecah sangat sulit untuk disatukan kembali.

Santri’s Journey #4

Catatan #4

Nama lengkapnya Encep Abdul Mukhtar Asy-ari, biasa di panggil Encep. Adalah salah satu santri di pondok pesantren ini yang paling muda. Ia hanya menyelesaikan pendidikannya sampai pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (SMP) saja dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren.

Di waktu senggang, aku sering mengajaknya untuk berbincang atau sekedar menikmati keindahan alam di sekitar pondok pesantren.

Mungkin di antara semua santri yang aku lihat, Encep adalah anak yang paling sederhana, ketika diantar orangtuanya ke pondok pesantren, ia hanya diberi bekal beras untuk dimasak. Pantas saja selama aku berada di sini, aku tidak pernah melihatnya pergi ke warung untuk membeli jajanan atau sesuatu seperti yang lainnya kecuali hanya memebeli bahan pokok untuk memasak yang uangnya dikupulkan dari iuran santri dan itu pun Encep tak pernah ikut iuran uang, ia hanya ikut iuran beras yang ia bawa dari rumah saja.

Namun di balik kesederhanaannya ia juga merupakan santri yang paling rajin dalam urusan pengabdian pada pondok pesantren. Ia rajin menyapu halaman rumah kyai, teras, mushola serta membersihkan lantai dan karpetnya.

Selain itu, Ia memikili semangat belajar agama yang besar dan juga rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala sesuatu. Jadi tak salah ketika terkadang sesekali ia melihatku memotret walau hanya dengan smartphone, ia selalu bertanya untuk apa, bagaimana tekniknya, seperti apa cara editing fotonya yang merupakan hal baru baginya.

Sesekali ia bercerita tentang kehidupan keluarganya, kegiatannya ketika di rumah. Mungkin aku tidak akan bercerita lebih jauh tentang latar belakang kehidupannya. Tapi dari penggalan-penggalan kisah hidup yang ia ceritakan, aku banyak belajar untuk lebih bersyukur. Ternyata di balik hal-hal yang sering kita keluhkan pada Allah, masih banyak orang lain yang bisa lebih menerima apa yang telah Allah berikan meskipun dalam keadaan tersulit sekalipun.

Janji Allah dalam al-Quran surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Santri’s Journey #3

Catatan #3

Ada beberapa kegiatan baru yang belum pernah aku alami sebelumnya, seperti mencari kayu bakar, memasak di atas tungku, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Biasanya kami mulai memasak setelah selesai pengajian kitab pada pukul 10.00 WIB. Tugas pertama mengumpulkan 1 gelas beras dari masing-masing santri, kemudian mengumpulkan uang Rp. 2000 dari setiap santri.

Setelah itu, ada yang bertugas menyalakan api, mencuci beras, belanja lauk dan sayur dari uang yang telah kami kumpulkan.

Menu yang paling sering kami hidangkan, nasi putih, sambal terasi, ikan asin, jengkol muda dan sayur yang hanya di kukus atau dimasak dengan mie instan kemudian dihidangkan di atas daun pisang.

Sederhana memang, tapi nikmatnya luar biasa. Setiap hari masak dan makan bersama. Memang pada realitanya bukan kami tidak mampu, tapi inilah pelajaran hidup yang guru kami berikan dan harus kami jalani selama belajar di pondok pesantren ini.

Inilah yang disebut edukasi yang tidak ada di bangku sekolah atau pun di bangku kuliah. Tidak ada di ujian akhir atau pun skripsi.

Santri’s Journey #2

Catatan #2

Tiba di tempat yang baru, tentunya harus mulai membiasakan diri dengan segala sesuatu yang baru; suasana baru, lingkungan baru dan kawan baru.

Ada sekitar 13 orang santri yang saat ini turut menimba ilmu bersamaku. Dari semua santri yang ada, tentunya mereka memiliki karakter dan latar belakang kehidupan yang berbeda pula.

Sesekali aku coba sedikit berbincang dengan salah satu dari mereka, sharing, berbagi pengalaman, berbagi ilmu yang aku tahu, mengajarkan apa yang aku bisa, begitu pun sebaliknya, Sembari sedikit-sedikit membaca latar belakang kehidupan mereka, alasan mereka belajar di pondok pesantren ini.

Beberapa di antara mereka ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya dengan beralasan sekolah itu bikin pusing, ada pula yang beralasan karena terhambat biaya, jadi dia memutuskan untuk belajar di pondok pesantren ini, karena perlu diketahui pondok pesantren tempatku belajar sekarang tidak dipungut biaya apapun kecuali kami sendiri iuran untuk bayar listrik dan itu pun tak lebih dari Rp. 10.000.

Dari mereka aku banyak belajar untuk bisa lebih bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Dan semua itu merupakan edukasi yang tidak aku temukan di bangku sekolah maupun kuliah.

Santri’s Journey #1

Catatan #1

Kembali aku memulai perjalanan untuk menimba ilmu, setelah Sebelumnya aku telah menyelasaikan studiku selama 4 tahun di Surabaya. Kini waktunya bergeser sedikit lebih dekat dari kampung halaman, yaitu di kabupaten Cianjur tepatnya di salah satu Pondok Pesantren yang tak banyak santrinya, bahkan tak lebih dari 20 orang santri saja yang menimba ilmu di pesantren ini setiap tahunnya.

Namun alumninya banyak yang telah menjadi seorang pemuka agama dan memiliki pondok pesantren. Semua materi yang diajarkan serta proses belajarnya pun kali ini sangat berbeda dengan apa yang telah aku alami sebelumnya, yang mana kitab-kitab klasik (kitab kuning) lah yang menjadi kajian utamanya.

Metode belajarnya biasa disebut pasaran yaitu semacam menterjemahkan kata demi kata dalam kitab-kitab kuning hingga tamat (ngalogat) dengan dibimbing langsung oleh pimpinan pondok pesantren yang sesekali menjelaskan permasalahan yang sekiranya sangat rumit. Metode semacam ini memang bukan untuk orang-orang yang pertama kali belajar di pondok pesantren (mondok) karena metode ini lebih bertujuan pada ngalogat sampai tamat dengan waktu yang sudah ditentukan.

Materi dimulai dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB, kemudian dilanjut pada pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB dan terakhir dimulai pada pukul 19.30 WIB hingga pukul 21.30 WIB. Merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa berharganya bisa menuntut ilmu di tempat ini.

Tak hanya ilmu-ilmu agama yang aku dapatkan, lebih dari itu banyak sekali pelajaran hidup yang sangat penting dan membuka mata untuk semakin bersyukur.